Saturday, 16 April 2011

ILUSI SEMANGAT PERUBAHAN (Edisi Revisi)

Mengikuti perkembangan blantika musik Indonesia dewasa ini tidak ubahnya seperti berlari-lari dan berputar-putar mencari jalan keluar dalam labirin panjang. Tanpa akhir, tanpa ujung. Lelah, jenuh, dan itu-itu saja. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, dunia musik Indonesia sempat booming dengan istilah “indie” (yang kira-kira berarti tidak harus bernaung dalam label besar tapi bisa eksis dan kuat), yang katanya “anti-trend”, “anti-mainstream”, dll. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat mengafirmasi pola pikir mereka bahwa blantika musik Indonesia terpolarisasi menjadi oposisi biner. Label besar atau “major” serta nirlabel dan label kecil atau “indie”.

Padahal jika mereka menyadari, membuat dan mengorganisir gerakan “anti-trend” sama saja dengan membuat trend baru yang namanya “gerakan anti-trend”. Mengenai hal ini, ditambah lagi dengan adanya dua pabrik rokok besar yang mengkomersialisasi dan mengeksploitasi “indie” ini habis-habisan, membuat rekan-rekan “indie” ini teralienasi dari orientasi awal mereka. Seperti yang kita ketahui bersama dalam beberapa kali kompetisi, mereka telah menyaring dan melahirkan band-band yang pada akhirnya tidak ada bedanya dari band-band “major” asli. Atau dengan kata lain mari kita sebut diri mereka “major seolah-olah” dan “indie seolah-olah”.

Lalu, sudah bisa ditebak, pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk mereka tidak jauh seputar musik, lagu andalan, perihal album dan yang paling pragmatis sedunia, “Rencana kedepannya setelah ini mau ngapain, nech?“. Yang sudah bisa dikira-kira jawabannya adalah, “Kita mau konsen ngerjain album baru nech!” atau “Kita ada rencana promo tur album baru”. Atau jika yang dilontari pertanyaan termasuk band pendatang baru, maka rangkuman akhir dari seluruh jawaban mereka kira-kira adalah, “Kita mengusung sesuatu yang beda dari band-band yang lain, walaupun kita pop tapi memasukkan sedikit unsur rock, jazz, melayu, R ‘n B”. Ya.. ya.. lagi-lagi kalimat blablabla dan nada-nada reaksioner semacam itu yang tidak ada bedanya dengan lagu-lagu yang mereka buat.

Dan ujung-ujungnya, kita tidak bisa membedakan mana yang “major” dan mana yang “indie”. Sudah tercampur baur dan sedikit mustahil untuk diklasifikasi ulang karena semua yang mereka tawarkan yang awalnya “indie” akhirnya berubah dengan cepat menjadi “major” (Jean Baudrillard menyebutnya sebagai simulacra/simulacrum yang kurang lebih adalah sebuah dunia yang terbangun dari kesilang-sengkarutan nilai, fakta, tanda, citra, dan kode sehingga menyebabkan suatu realitas tak lagi punya referensi kecuali simulacra itu sendiri. Ya, semacam duplikasi dari duplikasi sehingga semakin susah dikenali mana yang asli dan mana yang palsu, mana hasil produksi dan mana yang reproduksi, atau mana subjek dan mana objek. Adanya ruang realitas semacam inipun membuat kita semua bisa mereproduksi atau dan merekayasa segala sesuatu sampai batasannya yag terjauh). Namun anehnya mereka tetap tidak mau dikatakan sebagai “major” karena mereka merasa memiliki orientasi musik yang berbeda dari yang “major asli”.

Membingungkan memang. Menyedihkan. Menumpuk realitas dengan realitas baru yang tidak lain adalah ilusi. Mereka membuat realitas baru di masyarakat dengan mengusung panji-panji “semangat perubahan”. Tetapi, selama orientasi asli “semangat perubahan” itu sudah tercampur dengan yang lain, maka “semangat perubahan” tersebut hanyalah sebuah ilusi.

Mengutip sedikit apa yang dikatakan Jean Baudrillard,

“for illusion is not the opposite of reality, but another more subtle reality which enwraps the former kind in the sign of its disappearance.” (Baudrillard, “Photographies”).

Ilusi adalah sebuah kenyataan yang nyata. Sama halnya dengan “semangat perubahan” ini, ia adalah sebuah ilusi. Sebuah llusi bahwa “semangat perubahan” rekan-rekan “indie” akan segera muncul menggantikan rekan-rekan “major”.

Penulis lebih sepakat jika hal-hal semacam itu tetap bergerak liar dibawah tanah, menembus semua lapisan tanah dan akar-akar tanpa harus mendapatkan publikasi yang begitu banyak dan berlebihan (underground). Karena, ketika hal-hal semacam itu mendapat perhatian publik yang berlimpah, sudah pasti akan menjadi sasaran komersialisasi para borjuis-borjuis besar maupun kecil dan akhirnya membuat mereka kehilangan “semangat perubahannya”, kehilangan “semangat pembaharuannya” yang secara otomatis melunturkan orientasi awal gerakan ini.

Pada awalnya mereka sepakat untuk berbeda tetapi justru berganti menjadi orientasi pasar. Yang jika dianalogikan, sama seperti sifat sel sperma, mereka akan tetap hidup dan berguna jika mereka tetap ada dan bergerak dalam lubang rahim. Tapi ketika mereka melompat keluar dari lubang rahim, tidak sampai 5 detik mereka sudah tidak bisa menghasilkan lagi dan bahkan mereka bisa mati.

Segala sesuatu mempunyai takaran sendiri-sendiri, sama halnya dengan hal ini. Semangat ini muncul karena mereka mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu mendapatkan perhatian walaupun itu kecil. Namun semangat semacam ini pada dasarnya akan melemah dan bisa mati ketika mendapat porsi yang berlebih. Sehingga yang mereka lakukan adalah mencari dan melakukan sesuatu yang sifatnya “tidak umum”, “berbeda” dan berbagai macam lainnya agar mendapat sedikit perhatian dari sekitar.

Konsep “semangat perubahan” mengacu pada makna yang sama, tetapi juga makna yang berbeda. Jeda waktu mampu menyingkap jati diri “semangat perubahan” tersebut. Atau dengan kata lain, membentuk makna yang sekaligus memisahkannya (makna “semangat perubahan” yang pertama tidak bisa diartikan dengan makna yang sama dengan “semangat perubahan” yang kedua) karena telah “diperlakukan sewenang-wenang” oleh otoritas – dalam hal ini label besar – sehingga pada akhirnya tanda yang dipakai untuk menunjukkan “semangat perubahan” kedua bisa diganti dengan tanda atau tulisan lain, sebutlah “orang kaya baru”. Adanya proses jeda ini memperlihatkan bahwa tanda atau tulisan ini hanya sekedar memaknai suatu jeda. Pemaknaan model begini mengacu pada teori differance Derrida (Derrida pun sebenarnya enggan menyebut “difference” sebagai teori) sebagai bentuk “permainan sistematik perbedaan, jejak-jejak perbedaan, jarak yang menghubungkan unsur satu dengan yang lain. Jarak ini merupakan jeda. Tanpa jeda ini istilah yang penuh tidak dapat bermakna atau berfungsi”. Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai. Salam.

Andi Aulia Anwar
(Ndick)
Lembaga Studi Urban (LSU)

http://drgsubur.files.wordpress.com/2008/04/jean-baudrillard-postmodernisme.pdf.
www.egs.edu/Jean Baudrillard/Biography.html.
Baudrillard, J. Photographies. Diakses pada 28 Juli 2007, dari situs European Graduate School Faculty :
http://www.egs.edu/faculty/baudrillard/baudrillard-photographies.html
Hamsah, Ustadi, ”Jean Baudrillard”, Jurnal Studi Agama-agama Religi, No. 1, vol. III (2004).
Culler, Jonathan. 2004. Jacques Derrida. Dalam John Sturrock(ed.), Strukturalisme Post-Stukturalisme: dari Levi-Strauss ke Derrida (M. Nahar Penerj.). Surabaya: Jawa Pos Press.
Sarup, M. (2004). Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis (Cetakan Kedua) (M. A. Hidayat Penerj.). Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Lubis, Akhyar Yusuf (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Al-Fayyadl, Muhammad. 2005. Derrida. Yogyakarta: LkiS
Haryatmoko. 2007. Derrida Yang Membuat Resah Rezim Dogmatis dan Kepastian. Dalam Basis. Dua Bulanan. No. 11-12, Tahun Ke 56, November-Desember 2007.

Sunday, 2 January 2011

Boaz dan JAS MERAH

“Jas Merah” atau ”Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”. Itulah ungkapan yang mungkin cocok untuk Timnas Indonesia, yang berlaga di putaran Final Piala AFF selama bulan Desember. Menyimak permainan Timnas Garuda melawan Harimau Malaya kemarin, mengingatkan saya akan kiprah Tim Oranye Belanda dan La Furia Roja Spanyol di putaran final Piala Dunia 2010 Juni lalu. Pada penyisihan grup, Belanda mampu menyapu bersih seluruh poin maksimal dari tiga pertandingan. Hal ini sejalan dan sebangun dengan kepak sayap Timnas Garuda di penyisihan Piala AFF yang menyapu bersih seluruh pertandingan. Di babak selanjutnya, Tim Oranye dengan meyakinkan memukul kuda hitam Slovakia, favorit juara Brazil dilibas di perempat final dan melumat Diego Forlan cs di semifinal. Demikian halnya dengan Timnas Garuda, karena jumlah peserta Piala AFF tidak sebanyak Piala Dunia, otomatis Timnas Garuda langsung memainkan babak semifinal dengan bertemu Philipina.

Sementara itu, perjalanan Malaysia pun mirip dengan Spanyol sebelum akhirnya merengkuh Juara untuk yang pertama kalinya. Setelah dipukul Indonesia di pertandingan pertama, Malaysia mampu bangkit dengan menahan Thailand di pertandingan kedua dan menghajar Laos di pertandingan terakhir. Hal ini tampak serupa, karena pertandingan pertama Grup H Piala Dunia lalu, Spanyol kalah oleh Swiss. Lolos sebagai juara grup H, kiprah Spanyol selanjutnya bisa dibilang” biasa-biasa saja” sampai akhirnya bisa bablas menjadi juara.

Menjelang partai final pun banyak pihak, pengamat dan bursa taruhan menjagokan Belanda akan merebut Piala Dunia untuk pertama kalinya. Mengingat permainan mereka yang impresif selama kualifikasi. Selain itu, Wesley Sneijder, playmaker Tim Oranye baru saja membantu Inter Milan meraih Treble Winners sebulan sebelumnya dan berpeluang menyabet gelar top skor Piala Dunia. Torehan yang mentereng sekaligus fantastis. Spanyol? Biasa-biasa saja. Kekalahan yang dialami pada pertandingan pertama membuat bursa taruhan enggan memberikan calon favorit juara pada Spanyol. Beberapa pengamat juga mengatakan bahwa Spanyol telah mencapai peak performances mereka dengan menjuarai Piala Eropa dua tahun sebelumnya.

Sama halnya akan Final Piala AFF edisi 2010 ini. Torehan yang fantastis selama kualifikasi, permainan yang dinamis, naturalisasi untuk pertama kalinya dan si baby face Irfan Bachdim yang satu angkatan dengan Ryan Babel di akademi Ajax Amsterdam (kini bermain di Liverpool) membuat bursa taruhan dan banyak pengamat menjagokan Indonesia akan menjadi Juara Piala AFF untuk pertama kalinya. Bagaimana dengan Malaysia? Dengan hanya mengandalkan skuad muda dan pertahanan rapat yang diakhiri dengan serangan balik, cukup membuat Malaysia tidak terlalu di favoritkan. Mungkin satu-satunya rekor yang bisa diadu adalah pencapaian mereka yang menjadi Juara di Sea Games 2009 di Laos.

Dan pertandingan final pun digelar. Ini pertandingan final yang keempat untuk Indonesia. Sama halnya akan Tim Oranye, yang masuk Final untuk ketiga kalinya di Final Piala Dunia 2010. Dalam hal ini jelas rekor Spanyol dan Malaysia kalah mentereng. Tapi perlu diingat, Sepakbola bukan hitung-hitungan diatas kertas. Dan satu lagi yang perlu diingat, bahwa bola itu bundar. Jujur saja sampai sekarang saya tidak pernah paham dan mengerti maksud dari idiom lawas yang satu ini.

Singkat cerita, pertandingan pun usai. Di Afrika Selatan, Spanyol bergembira dan merayakan gelar perdana mereka di Piala Dunia. Di Jakarta? Malaysia yang bergembira dan merayakan gelar perdana mereka di Piala AFF. Mengapa Belanda kalah padahal rekor mereka lebih mentereng? Mengapa pula Indonesia kalah padahal rekor kita jauh lebih mentereng? Apakah ada hubungannya dengan asumsi bahwa kita adalah jajahan Belanda sehingga gelar yang kita raih akhirnya mirip dengan mereka? Juara tanpa mahkota.

Mari kita introspeksi apa yang sebenarnya terjadi di persepakbolaan kita. Mari kita menengok kebelakang sebentar. Rajagopal memegang kendali Tim Harimau Malaya mulai sejak 2004. Awalnya, Rajagopal membesut timnas U-20. Lalu perlahan-lahan merangkak naik ke Tim Malaysia Junior dan sekarang menangani Tim Malaysia proyeksi Sea Games U-23 dan piala AFF kali ini. Ingat kiprah Pep Guardiola ketika memberikan enam gelar dalam semusim kepada Barcelona? Persamaannya adalah, sebelum menukangi Barcelona senior, Pep melatih Barcelona B atau Tim Junior. Bandingkan dengan Riedl yang baru beberapa bulan bersama Timnas. Sehingga baik Rajagopal maupun Pep sudah benar-benar hafal akan karakter pemainnya.

Tanpa maksud hati menyinggung dan mengecilkan usaha Alfred Riedl, ada baiknya Riedl membaca sejarah sepakbola. Di Piala Dunia 1982 di Spanyol, Italia berhasil merebut gelar juara setelah puasa bertahun-tahun dengan mengandalkan Paolo Rossi sebagai ujung tombak. Siapa Paolo Rossi? Tiga bulan sebelum Piala Dunia 1982 di gelar, legenda Juventus dan Italia ini tersangkut skandal sehingga pemanggilannya ke Timnas banyak memunculkan kontroversi. Selain itu, beberapa pemain Juventus, AC Milan, Fiorentina dan Lazio yang terkena skandal calciopoli sebelum Piala Dunia 2006 tidak membuat Italia kehilangan semangat bertanding dan mental juara. Tidak semua pemain bermasalah lantas tidak pantas bermain untuk timnas. Hubungannya dengan Riedl adalah, kedisiplinan yang ia tegakkan di Timnas Garuda akhirnya memakan korban. Yaitu, Boaz Salossa. Penyerang bengal ini akhirnya dicoret setelah tidak memenuhi panggilan Timnas untuk pemusatan latihan.

Permainan Timnas dengan mengandalkan bola-bola panjang sudah terbaca dan diantisipasi oleh back four Malaysia. Bek-bek mereka selalu melompat di depan Christian Gonzales, Irfan Bachdim maupun Bambang Pamungkas untuk menghalau bola menjauh. Sementara absennya Okto di sayap kiri mempermudah sayap kanan Malaysia untuk bermain disiplin. Arif memang selalu bermain bagus, tapi ketika menjadi pengganti bukan sebagai starter. Permainan Indonesia monoton. Barisan cadangan Indonesia adalah yang terbaik tapi Indonesia butuh pemain yang bisa merubah keadaan tapi sayangnya tidak ada. Saya jadi merindukan permainan Boaz. Gol terakhirnya adalah ke gawang Uruguay sewaktu uji coba lalu memperlihatkan mentalnya yang kuat dan permainannya yang tenang. Piala AFF 2004 lalu (dulu bernama Piala Tiger) ketika Indonesia kalah 1-2 di semifinal 1st leg melawan Malaysia di Jakarta, permainan impresif Boaz lah yang mengacak-ngacak pertahanan Malaysia membuat kita berhasil berbalik unggul 1-4. Saya yakin kita perlu Boaz. Boaz bisa ditempatkan sebagai striker murni, penyerang kiri maupun kanan, penyerang lubang maupun pemain sayap. Kedua kakinya sama hidup, larinya kencang dan pandai meliuk-liuk. Kita butuh pemain yang mampu menarik bek- bek Malaysia keluar dari sarangnya sehingga penyerang Oportunis macam El Loco maupun Bepe mampu mencetak angka. Irfan Bachdim bukan tipe seperti itu. Pemain ini terlalu flamboyan.

Tidak ada sukses yang instan, itulah sebenarnya yang ingin disampaikan anak asuhan Rajagopal kepada kita. Pembinaan mulai dari bawah. Sistem liga domestik juga harus dibenahi. Liga di Malaysia tidak menggunakan sama sekali pemain asing oleh karenanya pemain muda mereka mendapat perhatian lebih dari semua pihak. Tidak perlu malu meniru cara musuh apalagi demi kebaikan. Selain itu, mungkin sedikit perlu niat dan kelakuan yang baik kepada semua pihak. Saya kira ini sangat normatif dan semua pihak paham. Sudah saatnya kita berbenah. Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai, karena kesimpulan itu milik pembaca. Salam.

A. Aulia Anwar (Ndick)
Pemerhati sepakbola.