Tuesday, 12 May 2015

Joyoboyo Town Square

Sebuah hasil celetukan seorang kawan ketika penulis dan dia sedang mengobrol di kantin kampus sambil menunggu waktu kuliah berikutnya yang masih 4 jam lagi. Joyoboyo Town Square yang kita sepakati berdua dengan singkatan JOTOS ini merupakan sebuah plesetan dari suatu pusat perbelanjaan atau mall yang letaknya berdekatan dengan Terminal Joyoboyo. Sebuah potret realitas dimana setiap malamnya (khususnya malam minggu) menjadi tempat yang bisa dikatakan sebagai panggung catwalk buat para pengunjung. Tidak semua, tapi lebih dari sebagian orang yang datang hampir selalu memakai pakaian/setelan “kebesarannya” (baca: style terbaru), karena predikat out of date atau kuno adalah hantu yang menakutkan bagi mereka.

Lifestyle di Indonesia dewasa ini, khususnya di kota Surabaya (karena penulis memang menetap sampai sekarang di Surabaya) semakin lama dirasa-rasa semakin mengafirmasi kebudayaan Barat untuk sebagian hal. Seperti cara berpakaian, cara berbicara, penggunaan alat transportasi, penggunaan alat informasi dan telekomunikasi hingga pemilihan pakaian dalam. Peng-afirmasian yang cukup brutal dan cuma-cuma ini sejalan dengan apa yang disebut Jean Baudrillard dengan dunia simulasi, yaitu dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa referensi relasional yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi.
Mekanisme sistem konsumsi manusia pada dasarnya sekarang ini cenderung berpijak pada sistem nilai tanda (sign-value) dan nilai simbol (symbolic-value) daripada nilai guna (use-value) dan nilai tukar (exchange-value). Yang menjadi faktor determinan dalam hal ini tiada lain dan tiada bukan adalah apa yang biasa kita sebut dengan uang. Ya, uang. Uang adalah faktor utama yang memegang peran sentral dalam kehidupan dan peradaban manusia kini. Aktivitas konsumsi manusia pada dasarnya dewasa ini bukan dilakukan karena alasan kebutuhan (rasional-kalkulatif), namun lebih kepada alasan simbolis (irrasional), yaitu: kebanggan (pride), status dan prestise yang kesemua dari tiga hal ini adalah manifestasi dari symbolic-value dan sign-value.

Kebudayaan simulasi hampir pasti melahirkan masyarakat simulasi pula dimana hampir semua hal ditentukan oleh relasi tanda, citra dan kode. Yang dimaksud dengan tanda disini adalah segala sesuatu yang mengandung makna dan memiliki dua unsur, yakni penanda atau bentuk dan petanda atau makna (penulis mencoba mengacu pada metode Linguistik Modern Saussurean). Sementara itu citra adalah segala sesuatu yang nampak oleh indera, namun sebenarnya tidak memiliki eksistensi substansial dan kode adalah suatu cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk memungkinkan satu pesan dapat disampaikan kepada orang lain. Realitas-realitas ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lainnya diatur oleh logika simulasi ini, dimana tanda, citra dan kode menentukan bagaimana seseorang harus bertindak dan memahami sekitarnya. Bahkan, identitas seseorang saja (cantik, gaul, keren, kaya, miskin, dll) adalah sebuah pemberian dari orang lain yang berhasil disusun oleh permainan konstruksi tanda, citra dan kode yang membentuk cemin. Menurut Jacques Lacan inilah yang disebut dengan fase cermin.

Menurut Baudrillard lagi, ruang realitas kebudayaan dewasa ini merupakan cerminan apa yang disebut simulacra atau simulacrum. Simulacra/simulacrum adalah sebuah ruang realitas yang disarati oleh proses reduplikasi dan daur ulang berbagai macam fragmen kehidupan yang berbeda dalam wujud komoditas citra, fakta, tanda serta kode yang bersinggungan dalam satu garis orbit yang sama atau bisa juga dikatakan simulacra/simulacrum adalah sebuah dunia yang terbangun dari kesilang-sengkarutan nilai, fakta, tanda, citra, dan kode sehingga menyebabkan suatu realitas tak lagi punya referensi kecuali simulacra itu sendiri. Ya, semacam duplikasi dari duplikasi sehingga semakin susah dikenali mana yang asli dan mana yang palsu, mana hasil produksi dan mana yang reproduksi, atau mana subjek dan mana objek. Adanya ruang realitas semacam inipun membuat kita semua bisa mereproduksi atau dan merekayasa segala sesuatu sampai batasannya yang terjauh. Menurut Guy Debord;

“Considered in its own terms, the spectacle is affirmation of appearance and affirmation of all human life, namely social life, as mere appearance” (Kellner 1994;1950). Berdasarkan pengertiannya, tontonan berarti pengakuan akan penampakan dan pengakuan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia, yakni kehidupan sosial, sebagai sekedar penampakan belaka.


Dalam bahasa Marx seperti yang dikutip oleh Kellner dan akhirnya dikutip juga oleh penulis berbunyi demikian:

“With money, one can possess various human qualities. That which exists for me through the medium of money, that which I can pay for. Which money can buy, that am I, the possession of money. The extent of the power of money is the extent of my power. Moneys properties are my properties and essential powers the properties and powers of it possessor (Kellner 1994: 44)”
“Thus, what I am and am capable of is by no means determined by my individuality. I am ugly, but I can buy for myself the most beautiful of women. Therefore, I am not ugly, for the effect of ugliness its determinant power is nullified by money. In a society where human beings are thigs, things (money) take in human power. All the things which you cannot do, your money can do. And conversely, what money cannot do, seemingly cannot be done (Kellner 1994: 45)

(Dengan uang, seseorang dapat memiliki berbagai kualitas hidup manusia. Bahwa apa yang bisa saya miliki dengan sarana uang, saya bisa batar, dan uang bisa membelinya, itulah saya, si pemilik uang tersebut. Bertambah besarnya kekuasaan uang adalah bertambah besarnya kekuasaan saya. Apa yang bisa dimiliki uang adalah milik dan kekuasaan utama saya si pemilik uang).
(maka siapa saya dan apa keahlian saya tidaklah ditentukan oleh individualitas saya. Saya bertampang jelek, namun saya bisa membeli wanita tercantik yang saya inginkan. Saya kini tidak lagi jelek, karena efek kejelekan tersebut sebagai factor determinan telah dihapuskan oleh uang. Dalam masyarakat dimana manusia telah berubah menjadi benda, maka benda pulalah (uang) yang akan menggantikan kekuasaan manusia. Segala sesuatu yang anda tidak dapat lakukan, uang anda bisa melakukannya, maka ia juga tidak dapat dilakukan)

Ya, sepertinya uang bisa membeli apapun didunia ini. Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai. Salam.


Andi Aulia Anwar
(Ndick)
Lembaga Studi Urban (LSU)



Daftar bacaan:
Bowie, M. 2004. Jacques Lacan. Dalam John Sturrock (ed.), Strukturalisme Post-Stukturalisme: dari Levi-Strauss ke Derrida (M. Nahar Penerj.). Surabaya: Jawa Pos Press.
Sarup, M. (2004). Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis (Cetakan Kedua) (M. A. Hidayat Penerj.). Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Lubis, Akhyar Yusuf (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Hamsah, Ustadi, ”Jean Baudrillard”, Jurnal Studi Agama-agama Religi, No. 1, vol. III (2004).
http://drgsubur.files.wordpress.com/2008/04/jean-baudrillard-postmodernisme.pdf.
www.egs.edu/Jean Baudrillard/Biography.html.

Requiem Aeternam Ego!*

*sebuah coretan iseng membunuh waktu*

Kali ini bukan masalah eksternal, bukan juga adanya pihak ketiga, keempat atau kelima. Ini (murni) masalah internal. Ya, Friedrich Nietzsche, filsuf "gila" dari Jerman pernah mengumandangkan kematian tuhan lewat aforismenya yang terkenal, "Requiem Aeternam Deo" yang kurang lebih berarti "semoga tuhan beristirahat dalam kedamaian yang abadi". Persoalannya ketika tuhan saja bisa kita bunuh, mengapa kita tidak bisa membunuh ego?

Adalah kebodohan maksimal ketika kebersatuan antara aku dan kamu masih terusik ego masing-masing. "Silahkan cari yang lain, ruangan ini terlalu sempit untuk aku, kamu dan egomu". Ego siapa? egomu. Tiap-tiap orang berhak mengatakan ini kepada yang bersangkutan sehingga kepemilikan 'ego' dari kata 'egomu' menjadi bias.

By the way, siang ini saya dapat quote yang cukup menarik dan menjadi teramat penting untuk diabaikan. Kira-kira bunyinya begini, "............i love too much, but that's not enough to make me stay". Manis tetapi menusuk, seperti pengirimnya. Like a baileys in coffee cup, kamu tidak akan pernah tahu itu sampai kamu mencobanya sendiri (penulis seorang penikmat kopi susu). Well, that's life. Sometimes so bitch, but sometimes so gorgeus. Mari menikmati indahnya sore dengan secangkir kopi susu eh baileys.

Oscar de Marco.
Sentimentalist.

Wednesday, 20 August 2014

Cerukan untuk seantero Liverpudlian.

 

"Dimana gerangan tempat terbaik untuk kenangan? Ia milik kemarin. Milik igauan yang tak kenal arah angin."
[Sapardi Djoko Damono]

Berbicara mengenai kamu, sudah barang tentu tidak ada habisnya. Datang tepat sebelum lonceng penghabisan berdentang. Tentu saja sebagai pengganti Si Limbung itu. Gol pertama yang meliuk melewati pemain paling akhir dari lawan sangat mengagetkan, selain memang sangat menawan sebagai perkenalan. Selebrasi layaknya seorang koboi menembak sembari menunggangi kuda perang serupa dengan kelakuanmu yang sejatinya tidak tertebak. Arogansi dan potensi begitu larut dalam satu narasi tubuh yang utuh. Tidak ada yang bisa menggugat. Layaknya kepingan uang yang punya dua sisi berbeda tapi saling bersatu.

Sebelum kedatanganmu, kami layaknya orang-orang terhormat lainnya yang kaku dan arogan, hampir tidak punya imajinasi. Kalaupun punya, ya.. Hanya sebatas fantasi tidak berwujud. Entah apa yang menghalangi aliran hasrat imaji itu untuk mengalir pada kanal yang seharusnya. Keadaan menjadi berbeda setelah kedatanganmu. Apapun bisa kami lakukan bersamamu. Seperti mendapat angin kebebasan dari belenggu panoptikon yang mengikat, kami terus berpesta, berdansa dan larut dalam kesenangan yang sudah lama tidak kami rasakan.

Ketika kejayaan sedikit lagi menghampiri, kami terperanjat. Kami tersentak kaget dan kami terpeleset. Keringat dingin membuat kami tidak mampu untuk berdiri dengan cepat. Semuanya terdiam, membisu. Sempat terbersit apakah kami jumawa? Apakah kami terlampau egois? Tetapi waktu tidak bisa menunggu. Ia, penghukum paling kejam dalam kehidupan bersikap acuh dan terus berputar. Ketika kami sadar, semuanya sudah terlambat. Ia membawamu serta. Kami-pun limbung. Berbagai macam umpan kami sebarkan. Berbagai macam cara kami lakukan. Ya, untuk mencari penggantimu yang sepadan.

Dan bersamaan dengan diakhirinya coretan ini, waktu masih dan tetap bergulir. Kami belum mendapatkan apa yang kami butuh. Entah, tapi sepertinya semesta masih enggan memberikan persetujuan. Sampai kapankah kami harus menunggu? Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai karena kesimpulan milik pembaca. Salam.

- Oscar de Marco - 

- Sentimentalist -

Friday, 1 August 2014

Ingatan dan Kenangan (sebuah coretan iseng menunggu jemputan).





Batas demarkasi antara ingatan dan kenangan tidaklah jelas. Terkadang keduanya saling bertabrakan. Terkadang pula saling bergandengan. Selalu diawali dengan yang namanya perkenalan, lalu berlanjut dengan obrolan. Ada kalanya terselip pertengkaran, ada kalanya terselip hangatnya pelukan. 

Saat itulah, ingatan dan kenangan berjalan beriringan dan tidak pernah berbenturan. Keduanya saling mengisi dan mengerti posisi. Dan ketika waktu yang terberikan memasuki masa kadaluarsanya, tidak ada yang menyangka. Ritme dan tempo yang seharusnya terjaga mulai saling tumpang tindih. Keduanya saling memanggil, bersahut-sahutan bahkan saling menyalahkan.


Tidak bisa terhindarkan. Keduanya mengalami keterlemparan dari pusarannya. Seorang bijak pernah berkata, "ingatan dan kenangan tidak perlu dihapus. Karena dari keduanya-lah orang bisa hidup dan terus hidup." Jika pertanyaan yang akhirnya muncul adalah kebersatuan (lagi) antara keduanya, maka jawabannya silahkan anda berfikir sejenak dan menilai. Salam. 

- Oscar de Marco -
- Sentimentalist -

Thursday, 17 July 2014

You'll Never Walk Alone

 "Biarkanlah mimpi indah itu tetap menjadi mimpi. Jangan menjadi kenyataan. Ia indah karena mimpi. Ketika ia menjadi kenyataan, mewujud dalam kehidupan, ada kemungkinan getir didalamnya" (Zlatan Ibrahimovic). Sementara, "My Dream to See Them Together". Itu kalimat epic yg tercantum di kiri bawah gambar menjadi semacam penegasan bahwa sesuatu yang nikmat sifatnya sementara. Ia nikmat karena singkat. As simple as that.

Begitulah kebersamaanmu dengan kami. Mungkin kamu tidak seperti pendahulumu yang limbung lalu pindah ke kota sebelah. Justru kamu yang mengangkat dan mengembalikan kami ke jalur yang sebenarnya. Namun sayang sekali kebersamaan yg indah ini harus diakhiri dengan cepat. Dengan alasan karir dan masa depan, kamu berkemas dan bersiap mengucapkan salam perpisahan. Tepat setelah event monumental dalam karir dan kehidupanmu, akhirnya kamu mengucapkan selamat tinggal.


Sebenarnya ini bukan masalah siapa yang paling hebat atau paling lama tetapi dia yang datang dan tidak pernah pergi lagi. Salahnya kami terlalu berharap. Berharap sesuatu yg abadi padahal kehidupan itu berada diantara datang dan pergi. Tapi kebersamaan singkat ini pasti akan kami ingat. Semoga sukses dan jangan lupa berkirim surat. Silahkan anda berfikir sejenak dan menilai karena kesimpulan milik pembaca. Salam. 


Photo: "Biarkanlah mimpi indah itu tetap menjadi mimpi. Jangan menjadi kenyataan. Ia indah karena mimpi. Ketika ia menjadi kenyataan, mewujud dalam kehidupan, ada kemungkinan getir didalamnya" (Zlatan Ibrahimovic). Sementara, My Dream is See Them Together. Itu kalimat epic yg tercantum di kiri bawah gambar tersebut menjadi semacam penegasan bahwa sesuatu yang nikmat sifatnya singkat. Ia nikmat karena singkat. As simple as that. 

Begitulah kebersamaanmu dengan kami. Mungkin kamu tidak seperti pendahulumu yang limbung lalu pindah ke kota sebelah. Justru kamu yang mengangkat dan mengembalikan kami ke jalur yang sebenarnya. Namun sayang sekali kebersamaan yg indah ini harus diakhiri dengan cepat. Dengan alasan karir dan masa depan, kamu berkemas dan bersiap mengucapkan salam perpisahan. Tepat setelah event monumental dalam karir dan kehidupanmu, akhirnya kamu mengucapkan selamat tinggal. 

Sebenarnya ini bukan masalah siapa yang paling lama dan paling berjasa tetapi dia yang datang dan tidak pernah pergi lagi. Salahnya kami terlalu berharap. Berharap sesuatu yg abadi padahal kehidupan itu berada diantara datang dan pergi. Tapi kebersamaan singkat ini pasti akan kami kenang. Semoga sukses dan jangan lupa berkirim surat. Silahkan anda berfikir sejenak dan menilai karena kesimpulan milik pembaca. Salam.

- Oscar de Marco -
- Sentimentalist -

Saturday, 16 April 2011

ILUSI SEMANGAT PERUBAHAN (Edisi Revisi)

Mengikuti perkembangan blantika musik Indonesia dewasa ini tidak ubahnya seperti berlari-lari dan berputar-putar mencari jalan keluar dalam labirin panjang. Tanpa akhir, tanpa ujung. Lelah, jenuh, dan itu-itu saja. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, dunia musik Indonesia sempat booming dengan istilah “indie” (yang kira-kira berarti tidak harus bernaung dalam label besar tapi bisa eksis dan kuat), yang katanya “anti-trend”, “anti-mainstream”, dll. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat mengafirmasi pola pikir mereka bahwa blantika musik Indonesia terpolarisasi menjadi oposisi biner. Label besar atau “major” serta nirlabel dan label kecil atau “indie”.

Padahal jika mereka menyadari, membuat dan mengorganisir gerakan “anti-trend” sama saja dengan membuat trend baru yang namanya “gerakan anti-trend”. Mengenai hal ini, ditambah lagi dengan adanya dua pabrik rokok besar yang mengkomersialisasi dan mengeksploitasi “indie” ini habis-habisan, membuat rekan-rekan “indie” ini teralienasi dari orientasi awal mereka. Seperti yang kita ketahui bersama dalam beberapa kali kompetisi, mereka telah menyaring dan melahirkan band-band yang pada akhirnya tidak ada bedanya dari band-band “major” asli. Atau dengan kata lain mari kita sebut diri mereka “major seolah-olah” dan “indie seolah-olah”.

Lalu, sudah bisa ditebak, pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk mereka tidak jauh seputar musik, lagu andalan, perihal album dan yang paling pragmatis sedunia, “Rencana kedepannya setelah ini mau ngapain, nech?“. Yang sudah bisa dikira-kira jawabannya adalah, “Kita mau konsen ngerjain album baru nech!” atau “Kita ada rencana promo tur album baru”. Atau jika yang dilontari pertanyaan termasuk band pendatang baru, maka rangkuman akhir dari seluruh jawaban mereka kira-kira adalah, “Kita mengusung sesuatu yang beda dari band-band yang lain, walaupun kita pop tapi memasukkan sedikit unsur rock, jazz, melayu, R ‘n B”. Ya.. ya.. lagi-lagi kalimat blablabla dan nada-nada reaksioner semacam itu yang tidak ada bedanya dengan lagu-lagu yang mereka buat.

Dan ujung-ujungnya, kita tidak bisa membedakan mana yang “major” dan mana yang “indie”. Sudah tercampur baur dan sedikit mustahil untuk diklasifikasi ulang karena semua yang mereka tawarkan yang awalnya “indie” akhirnya berubah dengan cepat menjadi “major” (Jean Baudrillard menyebutnya sebagai simulacra/simulacrum yang kurang lebih adalah sebuah dunia yang terbangun dari kesilang-sengkarutan nilai, fakta, tanda, citra, dan kode sehingga menyebabkan suatu realitas tak lagi punya referensi kecuali simulacra itu sendiri. Ya, semacam duplikasi dari duplikasi sehingga semakin susah dikenali mana yang asli dan mana yang palsu, mana hasil produksi dan mana yang reproduksi, atau mana subjek dan mana objek. Adanya ruang realitas semacam inipun membuat kita semua bisa mereproduksi atau dan merekayasa segala sesuatu sampai batasannya yag terjauh). Namun anehnya mereka tetap tidak mau dikatakan sebagai “major” karena mereka merasa memiliki orientasi musik yang berbeda dari yang “major asli”.

Membingungkan memang. Menyedihkan. Menumpuk realitas dengan realitas baru yang tidak lain adalah ilusi. Mereka membuat realitas baru di masyarakat dengan mengusung panji-panji “semangat perubahan”. Tetapi, selama orientasi asli “semangat perubahan” itu sudah tercampur dengan yang lain, maka “semangat perubahan” tersebut hanyalah sebuah ilusi.

Mengutip sedikit apa yang dikatakan Jean Baudrillard,

“for illusion is not the opposite of reality, but another more subtle reality which enwraps the former kind in the sign of its disappearance.” (Baudrillard, “Photographies”).

Ilusi adalah sebuah kenyataan yang nyata. Sama halnya dengan “semangat perubahan” ini, ia adalah sebuah ilusi. Sebuah llusi bahwa “semangat perubahan” rekan-rekan “indie” akan segera muncul menggantikan rekan-rekan “major”.

Penulis lebih sepakat jika hal-hal semacam itu tetap bergerak liar dibawah tanah, menembus semua lapisan tanah dan akar-akar tanpa harus mendapatkan publikasi yang begitu banyak dan berlebihan (underground). Karena, ketika hal-hal semacam itu mendapat perhatian publik yang berlimpah, sudah pasti akan menjadi sasaran komersialisasi para borjuis-borjuis besar maupun kecil dan akhirnya membuat mereka kehilangan “semangat perubahannya”, kehilangan “semangat pembaharuannya” yang secara otomatis melunturkan orientasi awal gerakan ini.

Pada awalnya mereka sepakat untuk berbeda tetapi justru berganti menjadi orientasi pasar. Yang jika dianalogikan, sama seperti sifat sel sperma, mereka akan tetap hidup dan berguna jika mereka tetap ada dan bergerak dalam lubang rahim. Tapi ketika mereka melompat keluar dari lubang rahim, tidak sampai 5 detik mereka sudah tidak bisa menghasilkan lagi dan bahkan mereka bisa mati.

Segala sesuatu mempunyai takaran sendiri-sendiri, sama halnya dengan hal ini. Semangat ini muncul karena mereka mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu mendapatkan perhatian walaupun itu kecil. Namun semangat semacam ini pada dasarnya akan melemah dan bisa mati ketika mendapat porsi yang berlebih. Sehingga yang mereka lakukan adalah mencari dan melakukan sesuatu yang sifatnya “tidak umum”, “berbeda” dan berbagai macam lainnya agar mendapat sedikit perhatian dari sekitar.

Konsep “semangat perubahan” mengacu pada makna yang sama, tetapi juga makna yang berbeda. Jeda waktu mampu menyingkap jati diri “semangat perubahan” tersebut. Atau dengan kata lain, membentuk makna yang sekaligus memisahkannya (makna “semangat perubahan” yang pertama tidak bisa diartikan dengan makna yang sama dengan “semangat perubahan” yang kedua) karena telah “diperlakukan sewenang-wenang” oleh otoritas – dalam hal ini label besar – sehingga pada akhirnya tanda yang dipakai untuk menunjukkan “semangat perubahan” kedua bisa diganti dengan tanda atau tulisan lain, sebutlah “orang kaya baru”. Adanya proses jeda ini memperlihatkan bahwa tanda atau tulisan ini hanya sekedar memaknai suatu jeda. Pemaknaan model begini mengacu pada teori differance Derrida (Derrida pun sebenarnya enggan menyebut “difference” sebagai teori) sebagai bentuk “permainan sistematik perbedaan, jejak-jejak perbedaan, jarak yang menghubungkan unsur satu dengan yang lain. Jarak ini merupakan jeda. Tanpa jeda ini istilah yang penuh tidak dapat bermakna atau berfungsi”. Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai. Salam.

Andi Aulia Anwar
(Ndick)
Lembaga Studi Urban (LSU)

http://drgsubur.files.wordpress.com/2008/04/jean-baudrillard-postmodernisme.pdf.
www.egs.edu/Jean Baudrillard/Biography.html.
Baudrillard, J. Photographies. Diakses pada 28 Juli 2007, dari situs European Graduate School Faculty :
http://www.egs.edu/faculty/baudrillard/baudrillard-photographies.html
Hamsah, Ustadi, ”Jean Baudrillard”, Jurnal Studi Agama-agama Religi, No. 1, vol. III (2004).
Culler, Jonathan. 2004. Jacques Derrida. Dalam John Sturrock(ed.), Strukturalisme Post-Stukturalisme: dari Levi-Strauss ke Derrida (M. Nahar Penerj.). Surabaya: Jawa Pos Press.
Sarup, M. (2004). Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis (Cetakan Kedua) (M. A. Hidayat Penerj.). Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Lubis, Akhyar Yusuf (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Al-Fayyadl, Muhammad. 2005. Derrida. Yogyakarta: LkiS
Haryatmoko. 2007. Derrida Yang Membuat Resah Rezim Dogmatis dan Kepastian. Dalam Basis. Dua Bulanan. No. 11-12, Tahun Ke 56, November-Desember 2007.

Sunday, 2 January 2011

Boaz dan JAS MERAH

“Jas Merah” atau ”Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”. Itulah ungkapan yang mungkin cocok untuk Timnas Indonesia, yang berlaga di putaran Final Piala AFF selama bulan Desember. Menyimak permainan Timnas Garuda melawan Harimau Malaya kemarin, mengingatkan saya akan kiprah Tim Oranye Belanda dan La Furia Roja Spanyol di putaran final Piala Dunia 2010 Juni lalu. Pada penyisihan grup, Belanda mampu menyapu bersih seluruh poin maksimal dari tiga pertandingan. Hal ini sejalan dan sebangun dengan kepak sayap Timnas Garuda di penyisihan Piala AFF yang menyapu bersih seluruh pertandingan. Di babak selanjutnya, Tim Oranye dengan meyakinkan memukul kuda hitam Slovakia, favorit juara Brazil dilibas di perempat final dan melumat Diego Forlan cs di semifinal. Demikian halnya dengan Timnas Garuda, karena jumlah peserta Piala AFF tidak sebanyak Piala Dunia, otomatis Timnas Garuda langsung memainkan babak semifinal dengan bertemu Philipina.

Sementara itu, perjalanan Malaysia pun mirip dengan Spanyol sebelum akhirnya merengkuh Juara untuk yang pertama kalinya. Setelah dipukul Indonesia di pertandingan pertama, Malaysia mampu bangkit dengan menahan Thailand di pertandingan kedua dan menghajar Laos di pertandingan terakhir. Hal ini tampak serupa, karena pertandingan pertama Grup H Piala Dunia lalu, Spanyol kalah oleh Swiss. Lolos sebagai juara grup H, kiprah Spanyol selanjutnya bisa dibilang” biasa-biasa saja” sampai akhirnya bisa bablas menjadi juara.

Menjelang partai final pun banyak pihak, pengamat dan bursa taruhan menjagokan Belanda akan merebut Piala Dunia untuk pertama kalinya. Mengingat permainan mereka yang impresif selama kualifikasi. Selain itu, Wesley Sneijder, playmaker Tim Oranye baru saja membantu Inter Milan meraih Treble Winners sebulan sebelumnya dan berpeluang menyabet gelar top skor Piala Dunia. Torehan yang mentereng sekaligus fantastis. Spanyol? Biasa-biasa saja. Kekalahan yang dialami pada pertandingan pertama membuat bursa taruhan enggan memberikan calon favorit juara pada Spanyol. Beberapa pengamat juga mengatakan bahwa Spanyol telah mencapai peak performances mereka dengan menjuarai Piala Eropa dua tahun sebelumnya.

Sama halnya akan Final Piala AFF edisi 2010 ini. Torehan yang fantastis selama kualifikasi, permainan yang dinamis, naturalisasi untuk pertama kalinya dan si baby face Irfan Bachdim yang satu angkatan dengan Ryan Babel di akademi Ajax Amsterdam (kini bermain di Liverpool) membuat bursa taruhan dan banyak pengamat menjagokan Indonesia akan menjadi Juara Piala AFF untuk pertama kalinya. Bagaimana dengan Malaysia? Dengan hanya mengandalkan skuad muda dan pertahanan rapat yang diakhiri dengan serangan balik, cukup membuat Malaysia tidak terlalu di favoritkan. Mungkin satu-satunya rekor yang bisa diadu adalah pencapaian mereka yang menjadi Juara di Sea Games 2009 di Laos.

Dan pertandingan final pun digelar. Ini pertandingan final yang keempat untuk Indonesia. Sama halnya akan Tim Oranye, yang masuk Final untuk ketiga kalinya di Final Piala Dunia 2010. Dalam hal ini jelas rekor Spanyol dan Malaysia kalah mentereng. Tapi perlu diingat, Sepakbola bukan hitung-hitungan diatas kertas. Dan satu lagi yang perlu diingat, bahwa bola itu bundar. Jujur saja sampai sekarang saya tidak pernah paham dan mengerti maksud dari idiom lawas yang satu ini.

Singkat cerita, pertandingan pun usai. Di Afrika Selatan, Spanyol bergembira dan merayakan gelar perdana mereka di Piala Dunia. Di Jakarta? Malaysia yang bergembira dan merayakan gelar perdana mereka di Piala AFF. Mengapa Belanda kalah padahal rekor mereka lebih mentereng? Mengapa pula Indonesia kalah padahal rekor kita jauh lebih mentereng? Apakah ada hubungannya dengan asumsi bahwa kita adalah jajahan Belanda sehingga gelar yang kita raih akhirnya mirip dengan mereka? Juara tanpa mahkota.

Mari kita introspeksi apa yang sebenarnya terjadi di persepakbolaan kita. Mari kita menengok kebelakang sebentar. Rajagopal memegang kendali Tim Harimau Malaya mulai sejak 2004. Awalnya, Rajagopal membesut timnas U-20. Lalu perlahan-lahan merangkak naik ke Tim Malaysia Junior dan sekarang menangani Tim Malaysia proyeksi Sea Games U-23 dan piala AFF kali ini. Ingat kiprah Pep Guardiola ketika memberikan enam gelar dalam semusim kepada Barcelona? Persamaannya adalah, sebelum menukangi Barcelona senior, Pep melatih Barcelona B atau Tim Junior. Bandingkan dengan Riedl yang baru beberapa bulan bersama Timnas. Sehingga baik Rajagopal maupun Pep sudah benar-benar hafal akan karakter pemainnya.

Tanpa maksud hati menyinggung dan mengecilkan usaha Alfred Riedl, ada baiknya Riedl membaca sejarah sepakbola. Di Piala Dunia 1982 di Spanyol, Italia berhasil merebut gelar juara setelah puasa bertahun-tahun dengan mengandalkan Paolo Rossi sebagai ujung tombak. Siapa Paolo Rossi? Tiga bulan sebelum Piala Dunia 1982 di gelar, legenda Juventus dan Italia ini tersangkut skandal sehingga pemanggilannya ke Timnas banyak memunculkan kontroversi. Selain itu, beberapa pemain Juventus, AC Milan, Fiorentina dan Lazio yang terkena skandal calciopoli sebelum Piala Dunia 2006 tidak membuat Italia kehilangan semangat bertanding dan mental juara. Tidak semua pemain bermasalah lantas tidak pantas bermain untuk timnas. Hubungannya dengan Riedl adalah, kedisiplinan yang ia tegakkan di Timnas Garuda akhirnya memakan korban. Yaitu, Boaz Salossa. Penyerang bengal ini akhirnya dicoret setelah tidak memenuhi panggilan Timnas untuk pemusatan latihan.

Permainan Timnas dengan mengandalkan bola-bola panjang sudah terbaca dan diantisipasi oleh back four Malaysia. Bek-bek mereka selalu melompat di depan Christian Gonzales, Irfan Bachdim maupun Bambang Pamungkas untuk menghalau bola menjauh. Sementara absennya Okto di sayap kiri mempermudah sayap kanan Malaysia untuk bermain disiplin. Arif memang selalu bermain bagus, tapi ketika menjadi pengganti bukan sebagai starter. Permainan Indonesia monoton. Barisan cadangan Indonesia adalah yang terbaik tapi Indonesia butuh pemain yang bisa merubah keadaan tapi sayangnya tidak ada. Saya jadi merindukan permainan Boaz. Gol terakhirnya adalah ke gawang Uruguay sewaktu uji coba lalu memperlihatkan mentalnya yang kuat dan permainannya yang tenang. Piala AFF 2004 lalu (dulu bernama Piala Tiger) ketika Indonesia kalah 1-2 di semifinal 1st leg melawan Malaysia di Jakarta, permainan impresif Boaz lah yang mengacak-ngacak pertahanan Malaysia membuat kita berhasil berbalik unggul 1-4. Saya yakin kita perlu Boaz. Boaz bisa ditempatkan sebagai striker murni, penyerang kiri maupun kanan, penyerang lubang maupun pemain sayap. Kedua kakinya sama hidup, larinya kencang dan pandai meliuk-liuk. Kita butuh pemain yang mampu menarik bek- bek Malaysia keluar dari sarangnya sehingga penyerang Oportunis macam El Loco maupun Bepe mampu mencetak angka. Irfan Bachdim bukan tipe seperti itu. Pemain ini terlalu flamboyan.

Tidak ada sukses yang instan, itulah sebenarnya yang ingin disampaikan anak asuhan Rajagopal kepada kita. Pembinaan mulai dari bawah. Sistem liga domestik juga harus dibenahi. Liga di Malaysia tidak menggunakan sama sekali pemain asing oleh karenanya pemain muda mereka mendapat perhatian lebih dari semua pihak. Tidak perlu malu meniru cara musuh apalagi demi kebaikan. Selain itu, mungkin sedikit perlu niat dan kelakuan yang baik kepada semua pihak. Saya kira ini sangat normatif dan semua pihak paham. Sudah saatnya kita berbenah. Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai, karena kesimpulan itu milik pembaca. Salam.

A. Aulia Anwar (Ndick)
Pemerhati sepakbola.