Sunday, 1 November 2009

SHOPPING MALL: Pusaran Kuasa Atas Obesitas Konsumerisme

Perkembangan kapitalisme lanjut (late capitalism) semenjak tahun 1920-an menunjukkan perubahan dramatis karakter produksi dan konsumsi dalam masyarakat konsumer. Bila dalam era kapitalisme awal, produksi menjadi faktor dominan yang membentuk pasar kapitalisme kompetitif, maka dalam era kapitalisme lanjut, konsumsi menjadi komandan lapangan baru kapitalisme yang juga berubah menjadi semakin bersifat monopoli. Sejak tahun 1960-an, kedudukan dominan faktor konsumsi bahkan tidak hanya dalam kawasan ekonomi. Lebih dari era-era sebelumnya, kini konsumsi menjadi motif utama dan penggerak realitas sosial, budaya, bahkan politik. Dalam era ini, segala upaya ditujukan pada penciptaan dan peningkatan kapasitas konsumsi melalui pemassalan produk, differensiasi produk dan manajemen pemasaran. Iklan, teknologi kemasan (packaging), pameran, media massa dan shopping mall merupakan ujung tombak strategi baru era konsumsi. Dan tema yang coba dientaskan oleh penulis disini adalah fenomena shopping mall.

Shopping Mall merupakan sebuah perpaduan cantik nan agung dari dua buah wacana, komoditi dan tontonan. Perkembangan mutakhir sebuah kota – Surabaya khususnya – telah mentranformasikan kegiatan belanja yang sebelumnya hanyalah kegiatan jual beli semata menjadi satu kegiatan waktu senggang (baca: wajib) yang menjanjikan kesenangan dan fantasi. Sistem perbelanjaan modern dewasa ini benar-benar menyuguhkan rangkaian produk, pelayanan suasana, serta lingkungan yang selalu direproduksi secara terus-menerus. Dalam masyarakat konsumer yang serba mutakhir kini, objek-objek konsumsi yang berupa komoditi tidak lagi sekedar memiliki manfaat (nilai guna atau use-value) dan harga (nilai tukar atau exchange value). Namun, hal tersebut lalu ter-manifestasikan dalam bentuk status, prestise, dan kehormatan (nilai tanda atau sign-value dan nilai simbol atau symbolic-value). Status, prestise, dan kehormatan adalah motif utama aktifitas konsumsi masyarakat konsumer. Konsumsi inilah yang membuat seluruh aspek-aspek kehidupan tak lebih dari objek, atau dengan kata lain menjadi objek konsumsi yang berupa komoditi. Fungsi utama objek-objek konsumer bukanlah pada kegunaan atau manfaatnya, melainkan lebih pada fungsi sebagai nilai tanda (sign-value) dan nilai simbol (symbolic-value) yang disebarkan melalui iklan-iklan gaya hidup berbagai media, sementara itu, jelaslah bahwa arena pertarungan gladiator-gladiator lapar mata tersebut berada di shopping mall. Ya, shopping mall. Sebuah arena pertarungan para gladiator yang menuntut mereka untuk mempunyai keahlian dalam memburu mangsanya (baca: barang incarannya). Kecepatan tangan dan kaki, lirikan mata dan intuisi yang tajam, ketepatan mengendus mangsa, dan daya jelajah yang tinggi adalah beberapa hal yang wajib dimiliki oleh mereka untuk bisa bertahan hidup dalam arena ini.

Salah satu contoh arena pertarungan para gladiator tersebut ada di sebuah mall yang terletak di pusat kota Surabaya. Ya, Tunjungan Plaza, salah satu oknum lawas yang bertanggung jawab atas merebaknya budaya (baca: obesitas) konsumerisme yang mewabah di Surabaya. Midnight sale, diskon pertengahan tahun, diskon akhir tahun, dan event-event lain dengan sengaja diciptakan tiada lain dan tiada bukan sebagai alat pemicu detak jantung masyarakat urban di Surabaya agar terus terpacu dan berpacu dalam memburu mangsanya (baca: barang buruannya). Harga ditekan (seolah-olah) sedemikian rupa rendahnya juga sebagai alat perayu agar logika berpikir masyarakat jatuh kedalam titik nadir sehingga yang bermain pada wilayah itu hanyalah logika atas hasrat (desire) dalam belanja dan bukan logika atas kebutuhan (need).

Selain sebagai komoditi, shopping mall juga menghadirkan sesuatu lainnya yang tidak kalah menarik. Hal itu adalah tontonan. Sebuah fenomena yang dulunya bergerak merayap dan merangkak dibawah tanah, sepertinya sudah waktunya membuncah keluar untuk tampil di panggung-panggung sosial yang dengan sengaja diciptakan akibat tuntutan modernisasi disegala bidang kehidupan. Sebuah mall dikawasan Hayam Wuruk bisa menjelaskannya dengan cukup rapi dan sistematis. Sutos adalah singkatan yang cukup manis dari Surabaya Town Square, Sebuah potret realitas (atau sudah menjadi hiperrealitas?) dimana setiap malamnya (khususnya malam minggu) menjadi tempat yang bisa dikatakan sebagai arena pertarungan berbagai macam branded dan style yang dikenakan oleh pengunjung. Tidak semua, tapi lebih dari sebagian orang yang datang hampir selalu memakai pakaian/setelan “kebesarannya” (baca: style terbaru), karena predikat out of date atau kuno adalah hantu yang menakutkan bagi mereka. ”Jemaat” yang sering ”beribadah” disini, sepertinya akan paham ritual-ritual yang dilakukan. Setelah memarkir kendaraan dengan rapi, ”jemaat” seolah-olah dituntun oleh semacam aturan tidak tertulis untuk ”naik” ke ”panggung” yang telah tersedia untuk berjalan berkeliling sembari menunjukkan (atau lebih tepatnya memamerkan) apa yang hari itu mereka pakai, setidaknya berputar satu kali di lantai satu dan satu kali di lantai dua. Selain ritual berkeliling, ”jemaat” biasanya mengenal ritual lainnya yang disebut ”absensi”. Biasanya, sembari berjalan mengelilingi ”rumah ibadah”, ”jemaat” juga seolah-olah dituntun untuk celingukan ke kanan dan ke kiri mencari perhatian ”jemaat” lainnya yang telah duduk santai di gerai-gerai atau kedai makanan dan minuman yang tersedia sembari berharap-harap ada yang mengenalinya atau memanggilnya, lalu kemudian terjadi percakapan yang cukup hangat selama beberapa menit, dan jikalau telah selesai berbincang hangat, ”jemaat” akan meneruskan ”ritualnya” sampai ia merasa puas dan lega (tidak ada standarisasi khusus atau penyeragaman durasi waktu ritual, semuanya diserahkan pada kapabilitas ”jemaat”). Dengan begitu, biasanya ”ritual” akan selesai dan ”jemaat” akan memilih tempat favoritnya untuk duduk nongkrong sambil menghabiskan apapun yang ada disitu. Bisa makanan, minuman atau bahkan waktu sekalipun.

Lifestyle di Indonesia dewasa ini, khususnya di kota Surabaya semakin lama dirasa-rasa semakin mengafirmasi kebudayaan barat (were-west) untuk sebagian hal. Seperti cara berpakaian, cara berbicara, penggunaan alat transportasi, penggunaan alat informasi dan telekomunikasi hingga (mungkin) pemilihan pakaian dalam. Peng-afirmasian yang cukup brutal dan cuma-cuma ini sejalan dengan apa yang disebut dengan dunia simulasi, yaitu dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa referensi relasional yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi.

Mekanisme sistem konsumsi manusia pada dasarnya sekarang ini cenderung berpijak pada sistem nilai tanda (sign-value) dan nilai simbol (symbolic-value) daripada nilai guna (use-value) dan nilai tukar (exchange-value). Aktivitas konsumsi manusia pada dasarnya dewasa ini bukan dilakukan karena alasan kebutuhan (rasional-kalkulatif), namun lebih kepada alasan simbolis (irrasional), yaitu: kebanggan (pride), status dan prestise yang kesemua dari tiga hal ini adalah manifestasi dari symbolic-value dan sign-value. Apa yang kita beli akhirnya tidak lebih dari sekedar tanda-tanda yang ditanamkan ke dalam objek-objek konsumsi, yang membedakan pilihan orang satu dengan lainnya. Tema-tema gaya hidup tertentu, kelas dan prestise menjadi seperangkat sistem klasifikasi status sosial di masyarakat. Stratifikasi sosial seseorang bahkan ditentukan dari, misalnya, mobil apa yang dipunyai (branded minded).

Konsumsi kini telah menjadi faktor fundamental dalam ekologi spesies manusia. Selain itu, konsumsi kini juga menjadi panggung sosial, sebuah tempat yang di dalamnya terjadi kudeta atas makna dan identitas antar subyek. Kesemuanya saling memperebutkan identitas atau katakanlah semacam citra ”keren”, ”cakep”, ”gaul”, ”tajir” dan berbagai istilah lainnya yang sebisa mungkin menjadikan mereka menjadi panutan bagi lainnya. Padahal, semakin jauh melangkah semakin tidak jelaslah siapa meniru siapa yang ditiru. Ya, semacam duplikasi dari duplikasi sehingga semakin susah dikenali mana yang asli dan mana yang palsu, mana hasil produksi dan mana yang reproduksi, atau mana subjek dan mana objek. Maka, tidak berlebihan jika di dalam shopping mall, segala yang tidak menyenangkan seperti kemiskinan, gelandangan, bau sampah yang anyir, dan lain-lainnya direduksi menjadi seperengkat tema-tema menjanjikan dan menyenangkan yang disepakati bersama. Dengan demikian, realitas perkotaan yang sebelumnya berwajah biner, akan menjadi seragam didalamnya. Kemiskinan akan disulap menjadi kemewahan (semu), bau sampah direduksi seminimal mungkin menjadi bau wangi parfum, gelandangan berubah dengan sendirinya menjadi perlente (sementara). Adanya ruang realitas semacam inipun membuat kita semua bisa mereproduksi atau dan merekayasa segala sesuatu sampai batasannya yang terjauh. Ya, Sepertinya mall menyulap segala sesuatu yang tidak menyenangkan tampak indah seperti surga. Atau bahkan lebih indah dari surga.

Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai. Salam

Ndick
LSU



Referensi:

Lubis, Akhyar Yusuf (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.

Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia Yang Dilipat. Yogyakarta & bandung: Jalasutra

Sarup, M. (2004). Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis (Cetakan Kedua) (M. A. Hidayat Penerj.). Yogyakarta: Penerbit Jendela.

Hamsah, Ustadi, ”Jean Baudrillard”, Jurnal Studi Agama-agama Religi, No. 1, vol. III (2004).

Surabaya Town Square dikala petang

Tunjungan Plaza dikala 'perang'

Saturday, 18 July 2009

ILUSI SEMANGAT PERUBAHAN

Mengikuti perkembangan blantika musik Indonesia dewasa ini tidak ubahnya seperti berlari-lari dan berputar-putar mencari jalan keluar dalam labirin panjang. Tanpa akhir, tanpa ujung. Lelah, jenuh, dan itu-itu saja. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, dunia musik Indonesia sempat booming dengan istilah “indie” (yang kira-kira berarti tidak harus bernaung dalam label besar tapi bisa eksis dan kuat), yang katanya “anti-trend”, “anti-mainstream”, dll. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat mengafirmasi pola pikir mereka bahwa blantika musik Indonesia terpolarisasi menjadi oposisi biner. Label besar atau “major” serta nirlabel dan label kecil atau “indie”.

Padahal jika mereka menyadari, membuat dan mengorganisir gerakan “anti-trend” sama saja dengan membuat trend baru yang namanya “gerakan anti-trend”. Mengenai hal ini, ditambah lagi dengan adanya dua pabrik rokok besar yang mengkomersialisasi dan mengeksploitasi “indie” ini habis-habisan, membuat rekan-rekan “indie” ini teralienasi dari orientasi awal mereka. Seperti yang kita ketahui bersama dalam beberapa kali kompetisi, mereka telah menyaring dan melahirkan band-band yang pada akhirnya tidak ada bedanya dari band-band “major” asli. Atau dengan kata lain mari kita sebut diri mereka “major seolah-olah” dan “indie seolah-olah”.

Lalu, sudah bisa ditebak, pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk mereka tidak jauh seputar musik, lagu andalan, perihal album dan yang paling pragmatis sedunia, “Rencana kedepannya setelah ini mau ngapain, nech?“. Yang sudah bisa dikira-kira jawabannya adalah, “Kita mau konsen ngerjain album baru nech!” atau “Kita ada rencana promo tur album baru”. Atau jika yang dilontari pertanyaan termasuk band pendatang baru, maka rangkuman akhir dari seluruh jawaban mereka kira-kira adalah, “Kita mengusung sesuatu yang beda dari band-band yang lain, walaupun kita pop tapi memasukkan sedikit unsur rock, jazz, melayu, R ‘n B”. Ya.. ya.. lagi-lagi kalimat blablabla dan nada-nada reaksioner semacam itu yang tidak ada bedanya dengan lagu-lagu yang mereka buat.

Dan ujung-ujungnya, kita tidak bisa membedakan mana yang “major” dan mana yang “indie”. Sudah tercampur baur dan sedikit mustahil untuk diklasifikasi ulang karena semua yang mereka tawarkan yang awalnya “indie” akhirnya berubah dengan cepat menjadi “major” (Jean Baudrillard menyebutnya sebagai simulacra/simulacrum yang kurang lebih adalah sebuah dunia yang terbangun dari kesilang-sengkarutan nilai, fakta, tanda, citra, dan kode sehingga menyebabkan suatu realitas tak lagi punya referensi kecuali simulacra itu sendiri. Ya, semacam duplikasi dari duplikasi sehingga semakin susah dikenali mana yang asli dan mana yang palsu, mana hasil produksi dan mana yang reproduksi, atau mana subjek dan mana objek. Adanya ruang realitas semacam inipun membuat kita semua bisa mereproduksi atau dan merekayasa segala sesuatu sampai batasannya yag terjauh). Namun anehnya mereka tetap tidak mau dikatakan sebagai “major” karena mereka merasa memiliki orientasi musik yang berbeda dari yang “major asli”. Membingungkan memang. Menyedihkan. Menumpuk realitas dengan realitas baru yang tidak lain adalah ilusi. Mereka membuat realitas baru di masyarakat dengan mengusung panji-panji “semangat perubahan”. Tetapi, selama orientasi asli “semangat perubahan” itu sudah tercampur dengan yang lain, maka “semangat perubahan” tersebut hanyalah sebuah ilusi.

Mengutip sedikit apa yang dikatakan Jean Baudrillard,

“for illusion is not the opposite of reality, but another more subtle reality which enwraps the former kind in the sign of its disappearance.” (Baudrillard, “Photographies”).

Ilusi adalah sebuah kenyataan yang nyata. Sama halnya dengan “semangat perubahan” ini, ia adalah sebuah ilusi. Sebuah llusi bahwa “semangat perubahan” rekan-rekan “indie” akan segera muncul menggantikan rekan-rekan “major”.

Penulis lebih sepakat jika hal-hal semacam itu tetap bergerak liar dibawah tanah, menembus semua lapisan tanah dan akar-akar tanpa harus mendapatkan publikasi yang begitu banyak dan berlebihan (underground). Karena, ketika hal-hal semacam itu mendapat perhatian publik yang berlimpah, sudah pasti akan menjadi sasaran komersialisasi para borjuis-borjuis besar maupun kecil dan akhirnya membuat mereka kehilangan “semangat perubahannya”, kehilangan “semangat pembaharuannya” yang secara otomatis melunturkan orientasi awal gerakan ini. Pada awalnya mereka sepakat untuk berbeda tetapi justru berganti menjadi orientasi pasar. Yang jika dianalogikan, sama seperti sifat sel sperma, mereka akan tetap hidup dan berguna jika mereka tetap ada dan bergerak dalam lubang rahim. Tapi ketika mereka melompat keluar dari lubang rahim, tidak sampai 5 detik mereka sudah tidak bisa menghasilkan lagi dan bahkan mereka bisa mati.

Segala sesuatu mempunyai takaran sendiri-sendiri, sama halnya dengan hal ini. Semangat ini muncul karena mereka mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu mendapatkan perhatian walaupun itu kecil. Namun semangat semacam ini pada dasarnya akan melemah dan bisa mati ketika mendapat porsi yang berlebih. Sehingga yang mereka lakukan adalah mencari dan melakukan sesuatu yang sifatnya “tidak umum”, “berbeda” dan berbagai macam lainnya agar mendapat sedikit perhatian dari sekitar.

Konsep “semangat perubahan” mengacu pada makna yang sama, tetapi juga makna yang berbeda. Jeda waktu mampu menyingkap jati diri “semangat perubahan” tersebut. Atau dengan kata lain, membentuk makna yang sekaligus memisahkannya (makna “semangat perubahan” yang pertama tidak bisa diartikan dengan makna yang sama dengan “semangat perubahan” yang kedua) karena telah “diperlakukan sewenang-wenang” oleh otoritas – dalam hal ini label besar – sehingga pada akhirnya tanda yang dipakai untuk menunjukkan “semangat perubahan” kedua bisa diganti dengan tanda atau tulisan lain, sebutlah “orang kaya baru”. Adanya proses jeda ini memperlihatkan bahwa tanda atau tulisan ini hanya sekedar memaknai suatu jeda. Pemaknaan model begini mengacu pada teori differance Derrida (Derrida pun sebenarnya enggan menyebut “difference” sebagai teori) sebagai bentuk “permainan sistematik perbedaan, jejak-jejak perbedaan, jarang yang menghubungkan unsur satu dengan yang lain. Jarak ini merupakan jeda. Tanpa jeda ini istilah yang penuh tidak dapat bermakna atau berfungsi”. Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai. Salam.

Andi Aulia Anwar
(Ndick)
Lembaga Studi Urban (LSU)

http://drgsubur.files.wordpress.com/2008/04/jean-baudrillard-postmodernisme.pdf.
www.egs.edu/Jean Baudrillard/Biography.html.
Baudrillard, J. Photographies. Diakses pada 28 Juli 2007, dari situs European Graduate School Faculty :
http://www.egs.edu/faculty/baudrillard/baudrillard-photographies.html
Hamsah, Ustadi, ”Jean Baudrillard”, Jurnal Studi Agama-agama Religi, No. 1, vol. III (2004).
Culler, Jonathan. 2004. Jacques Derrida. Dalam John Sturrock(ed.), Strukturalisme Post-Stukturalisme: dari Levi-Strauss ke Derrida (M. Nahar Penerj.). Surabaya: Jawa Pos Press.
Sarup, M. (2004). Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis (Cetakan Kedua) (M. A. Hidayat Penerj.). Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Lubis, Akhyar Yusuf (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Al-Fayyadl, Muhammad. 2005. Derrida. Yogyakarta: LkiS
Haryatmoko. 2007. Derrida Yang Membuat Resah Rezim Dogmatis dan Kepastian. Dalam Basis. Dua Bulanan. No. 11-12, Tahun Ke 56, November-Desember 2007.

LANJUTKAN MIMPIMU, MISKIN….

MASIHKAH KAU MENCINTAIKU, dengan tema “Aku dipisahkan dari istri dan anakku….”. Rabu 10 Juni 2009, saya lupa kira-kira jam berapa pastinya acara ini dimulai. Acara yang awalnya – jujur saja – sedikit saya pandang sebelah mata ini, berhasil sedikit membuka sebelah mata saya.

Alkisah, hadir dua keluarga yang sedang bermasalah. Di “sudut biru” pihak keluarga Heri (dan keluarga besarnya) dan di “sudut merah” pihak keluarga Retno (dan juga keluarga besarnya). Sesuai dengan tema diatas, pihak keluarga Retno (khususnya ibunya Retno dan kakaknya yang juga dihadirkan) merasa “terhina” jika Retno berhubungan/bersuamikan seorang Heri yang beribukan seorang tukang sayur dan mempunyai pekerjaan sebagai pegawai negeri yang bagi pihak keluarga Retno, pegawai negeri adalah pekerjaan yang cukup hina dan tidak punya masa depan, apalagi melihat kedudukan dan “keberadaan” keluarga mereka yang bagi mereka sangat tidak bisa dibandingkan. Pihak keluarga Retno yang super kaya itu pun tidak hentinya menghujani pihak keluarga Heri dengan umpatan-umpatan yang menurut saya tidak pantas diucapkan selama acara tersebut berlangsung, jika kita mengacu pada persamaan bahwa orang kaya = pintar = terpelajar = sopan. Pihak keluarga Heri pun seolah-olah berhasil mendapatkan momentum untuk mencari simpati penonton dengan sikap tenang, mungkin terlihat pasrah dan terbiasa menerima makian dan cacian yang bertubi-tubi walaupun sesekali melontarkan balasan yang tampaknya tidak sebanding. Pihak mediator yang salah satunya seorang psikolog berpendapat bahwa pihak keluarga Retno sepertinya enggan untuk melihat masalah dari kedua sisi. Untungnya, ayah dari Retno bersikap sedikit lebih kooperatif dan bahkan diakhir acara, dia mengatakan bahwa sudah bosan dengan kehidupannya dengan istrinya karena melulu soal harta dan bahkan mewariskan perusahaannya untuk Retno dan Heri. Singkat cerita, beberapa pertanyaan yang dilontarkan secara sembunyi-sembunyi untuk Heri dan Retno, berhasil menemui kecocokan (match, menurut istilah acara tersebut) atau dengan kata lain, cinta sejati mengalahkan segalanya (sampai disini, si miskin keluar sebagai pemenang).

Saya ingin menyampaikan (lepas dari acara tersebut hanya rekayasa, dibuat-buat ataupun memang realitas), hal-hal seperti ini sepertinya banyak terjadi dimasyarakat kita dewasa ini. Money (oriented) sepertinya sudah menjadi the way of life dan syarat sahnya pasangan untuk menjalin hubungan, menikah dan bahagia. Akibatnya, demi memuaskan hasratnya akan money, orang-orang rela melakuan apa saja. Ya, apa saja (walaupun sebagian orang lainnya tentunya mempunyai alasan yang berbeda-beda). Selain itu, hal-hal semacam ini bermunculan ditengarai berasal dari menjamurnya reality-reality show yang menurut saya hanya menjual mimpi akan datangnya seorang ratu adil yang dengan cepat merubah nasib mereka, dan sinetron-sinetron yang menurut saya termasuk kategori another stupid movie/film (lebih jelas mengenai sinetron dan buntutnya, baca ulasan “sin(e)drom” saudara Priyo Pahenggar alias Proy alias Cirenk).

Reality-reality show tersebut (sebutlah “jika aku menjadi”) sepertinya berhasil menyetir pola pikir masyarakat untuk mengafirmasi bahwa kehidupan yang nyaman, bahagia dan beradab adalah tidur di spring bed empuk, punya kulkas, televisi, selalu makan nasi, kerja dikantor, pakai dasi, ruangan ber AC, naik mobil, pakai handphone buatan amerika yang modelnya dumpy (baca: gundhek), dll. Oleh karena itulah mereka merasa aneh dan (mungkin) jijik ketika melihat orang “desa” tidur di ubin, tidak punya kulkas, tidak punya televisi, kadang makan nasi kadang makan sagu atau jagung, kerjanya pemulung atau petani atau penjual krupuk atau pedagang asongan, jalan kaki atau naik sepeda pancal, tidak punya alat telekomunikasi, anak-anaknya ikut jadi pemulung atau hanya seorang tukang bangunan, dll. Sehingga mereka seolah-olah punya hak dan “tanggung jawab moral” untuk mengangkat orang-orang “desa” tersebut dari – apa yang mereka sebut dengan – penderitaan, kemiskinan dan kebiadaban. Dengan “kelebihan hartanya”, seolah-olah mereka merasa mendapat wahyu dari langit sebagai dewa penolong, malaikat, nabi dan rasul untuk menyelamatkan si “desa” dari kebejatan dan ke-bar-bar-an. Atau dengan kata lain, mereka merasa punya kehidupan “ideal” yang “wajib” untuk diikuti orang lain (role model).

Kondisi masyarakat dewasa ini sepertinya sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Guy Debord sebagai masyarakat tontonan (society of spectacle). Masyarakat tontonan (society of spectacle) adalah masyarakat yang hampir disegala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. Selain itu, tontonan memanipulasi dan mengeksploitasi nilai-guna (use-value) dan kebutuhan manusia sebagai sarana memperbesar keuntungan dan kontrol ideologis atas manusia. Dalam masyarakat tontonan (spectacle society), segala sesuatu ditampilkan sebagai citra-citra yang bahkan tampak lebih real dibanding realitas sebenarnya. Inilah awal dimana tempat lahirnya masyarakat hipperrealitas (hyperreality society). Lagi, menurut Guy Debord,

“Considered in its own terms, the spectacle is affirmation of appearance and affirmation of all human life, namely social life, as mere appearance” (Kellner 1994;1950). Berdasarkan pengertiannya, tontonan berarti pengakuan akan penampakan dan pengakuan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia, yakni kehidupan sosial, sebagai sekedar penampakan belaka.

Lalu pertanyaannya, why money? What happened with money? Hal ini cukup terjelaskan ketika kita menyimak ucapan Marx yang dikutip Kellner dan dikutip oleh saya :

“With money, one can possess various human qualities. That which exists for me through the medium of money, that which I can pay for. Which money can buy, that am I, the possession of money. The extent of the power of money is the extent of my power. Moneys properties are my properties and essential powers the properties and powers of it possessor (Kellner 1994: 44)”
“Thus, what I am and am capable of is by no means determined by my individuality. I am ugly, but I can buy for myself the most beautiful of women. Therefore, I am not ugly, for the effect of ugliness its determinant power is nullified by money. In a society where human beings are thigs, things (money) take in human power. All the things which you cannot do, your money can do. And conversely, what money cannot do, seemingly cannot be done (Kellner 1994: 45)

(Dengan uang, seseorang dapat memiliki berbagai kualitas hidup manusia. Bahwa apa yang bisa saya miliki dengan sarana uang, saya bisa bayar, dan uang bisa membelinya, itulah saya, si pemilik uang tersebut. Bertambah besarnya kekuasaan uang adalah bertambah besarnya kekuasaan saya. Apa yang bisa dimiliki uang adalah milik dan kekuasaan utama saya si pemilik uang).
(maka siapa saya dan apa keahlian saya tidaklah ditentukan oleh individualitas saya. Saya bertampang jelek, namun saya bisa membeli wanita tercantik yang saya inginkan. Saya kini tidak lagi jelek, karena efek kejelekan tersebut sebagai factor determinan telah dihapuskan oleh uang. Dalam masyarakat dimana manusia telah berubah menjadi benda, maka benda pulalah (uang) yang akan menggantikan kekuasaan manusia. Segala sesuatu yang anda tidak dapat lakukan, uang anda bisa melakukannya, maka ia juga tidak dapat dilakukan).

Konsumsi kini telah menjadi faktor fundamental dalam ekologi spesies manusia (Baudrillard, 1970: 29). Selain itu, dalam masyarakat konsumer, konsumsi sebagai sistem pemaknaan tidak lagi diatur oleh hasrat (desire) akan kebutuhan, melainkan hasrat (desire) untuk mendapatkan kehormatan, prestise, status dan identitas. Dengan kata lain, money didudukkan sebagai satu-satunya sarana penilaian komoditi yang bersifat independen. Money menjadi bahasa baru yang dapat membentuk, memberi makna dan bahkan membeli realitas. Ya, sepertinya money bisa membeli apapun di dunia ini dan tampaknya si miskin akan kembali mengalami kekalahan. Ya, lanjutkan mimpimu, miskin….

Andi Aulia Anwar
(Ndick)
Lembaga Studi Urban (LSU)



Referensi:
http://drgsubur.files.wordpress.com/2008/04/jean-baudrillard-postmodernisme.pdf.
http://www.google.com/search?q=cache:958u0tIlIQwJ:drgsubur.files.wordpress.com/2008/04/jean-baudrillard-postmodernisme.pdf+Baudrillard&hl=id&ct=clnk&cd=12&gl=id&lr=lang_id