Tuesday, 12 May 2015

Joyoboyo Town Square

Sebuah hasil celetukan seorang kawan ketika penulis dan dia sedang mengobrol di kantin kampus sambil menunggu waktu kuliah berikutnya yang masih 4 jam lagi. Joyoboyo Town Square yang kita sepakati berdua dengan singkatan JOTOS ini merupakan sebuah plesetan dari suatu pusat perbelanjaan atau mall yang letaknya berdekatan dengan Terminal Joyoboyo. Sebuah potret realitas dimana setiap malamnya (khususnya malam minggu) menjadi tempat yang bisa dikatakan sebagai panggung catwalk buat para pengunjung. Tidak semua, tapi lebih dari sebagian orang yang datang hampir selalu memakai pakaian/setelan “kebesarannya” (baca: style terbaru), karena predikat out of date atau kuno adalah hantu yang menakutkan bagi mereka.

Lifestyle di Indonesia dewasa ini, khususnya di kota Surabaya (karena penulis memang menetap sampai sekarang di Surabaya) semakin lama dirasa-rasa semakin mengafirmasi kebudayaan Barat untuk sebagian hal. Seperti cara berpakaian, cara berbicara, penggunaan alat transportasi, penggunaan alat informasi dan telekomunikasi hingga pemilihan pakaian dalam. Peng-afirmasian yang cukup brutal dan cuma-cuma ini sejalan dengan apa yang disebut Jean Baudrillard dengan dunia simulasi, yaitu dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa referensi relasional yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi.
Mekanisme sistem konsumsi manusia pada dasarnya sekarang ini cenderung berpijak pada sistem nilai tanda (sign-value) dan nilai simbol (symbolic-value) daripada nilai guna (use-value) dan nilai tukar (exchange-value). Yang menjadi faktor determinan dalam hal ini tiada lain dan tiada bukan adalah apa yang biasa kita sebut dengan uang. Ya, uang. Uang adalah faktor utama yang memegang peran sentral dalam kehidupan dan peradaban manusia kini. Aktivitas konsumsi manusia pada dasarnya dewasa ini bukan dilakukan karena alasan kebutuhan (rasional-kalkulatif), namun lebih kepada alasan simbolis (irrasional), yaitu: kebanggan (pride), status dan prestise yang kesemua dari tiga hal ini adalah manifestasi dari symbolic-value dan sign-value.

Kebudayaan simulasi hampir pasti melahirkan masyarakat simulasi pula dimana hampir semua hal ditentukan oleh relasi tanda, citra dan kode. Yang dimaksud dengan tanda disini adalah segala sesuatu yang mengandung makna dan memiliki dua unsur, yakni penanda atau bentuk dan petanda atau makna (penulis mencoba mengacu pada metode Linguistik Modern Saussurean). Sementara itu citra adalah segala sesuatu yang nampak oleh indera, namun sebenarnya tidak memiliki eksistensi substansial dan kode adalah suatu cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk memungkinkan satu pesan dapat disampaikan kepada orang lain. Realitas-realitas ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lainnya diatur oleh logika simulasi ini, dimana tanda, citra dan kode menentukan bagaimana seseorang harus bertindak dan memahami sekitarnya. Bahkan, identitas seseorang saja (cantik, gaul, keren, kaya, miskin, dll) adalah sebuah pemberian dari orang lain yang berhasil disusun oleh permainan konstruksi tanda, citra dan kode yang membentuk cemin. Menurut Jacques Lacan inilah yang disebut dengan fase cermin.

Menurut Baudrillard lagi, ruang realitas kebudayaan dewasa ini merupakan cerminan apa yang disebut simulacra atau simulacrum. Simulacra/simulacrum adalah sebuah ruang realitas yang disarati oleh proses reduplikasi dan daur ulang berbagai macam fragmen kehidupan yang berbeda dalam wujud komoditas citra, fakta, tanda serta kode yang bersinggungan dalam satu garis orbit yang sama atau bisa juga dikatakan simulacra/simulacrum adalah sebuah dunia yang terbangun dari kesilang-sengkarutan nilai, fakta, tanda, citra, dan kode sehingga menyebabkan suatu realitas tak lagi punya referensi kecuali simulacra itu sendiri. Ya, semacam duplikasi dari duplikasi sehingga semakin susah dikenali mana yang asli dan mana yang palsu, mana hasil produksi dan mana yang reproduksi, atau mana subjek dan mana objek. Adanya ruang realitas semacam inipun membuat kita semua bisa mereproduksi atau dan merekayasa segala sesuatu sampai batasannya yang terjauh. Menurut Guy Debord;

“Considered in its own terms, the spectacle is affirmation of appearance and affirmation of all human life, namely social life, as mere appearance” (Kellner 1994;1950). Berdasarkan pengertiannya, tontonan berarti pengakuan akan penampakan dan pengakuan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia, yakni kehidupan sosial, sebagai sekedar penampakan belaka.


Dalam bahasa Marx seperti yang dikutip oleh Kellner dan akhirnya dikutip juga oleh penulis berbunyi demikian:

“With money, one can possess various human qualities. That which exists for me through the medium of money, that which I can pay for. Which money can buy, that am I, the possession of money. The extent of the power of money is the extent of my power. Moneys properties are my properties and essential powers the properties and powers of it possessor (Kellner 1994: 44)”
“Thus, what I am and am capable of is by no means determined by my individuality. I am ugly, but I can buy for myself the most beautiful of women. Therefore, I am not ugly, for the effect of ugliness its determinant power is nullified by money. In a society where human beings are thigs, things (money) take in human power. All the things which you cannot do, your money can do. And conversely, what money cannot do, seemingly cannot be done (Kellner 1994: 45)

(Dengan uang, seseorang dapat memiliki berbagai kualitas hidup manusia. Bahwa apa yang bisa saya miliki dengan sarana uang, saya bisa batar, dan uang bisa membelinya, itulah saya, si pemilik uang tersebut. Bertambah besarnya kekuasaan uang adalah bertambah besarnya kekuasaan saya. Apa yang bisa dimiliki uang adalah milik dan kekuasaan utama saya si pemilik uang).
(maka siapa saya dan apa keahlian saya tidaklah ditentukan oleh individualitas saya. Saya bertampang jelek, namun saya bisa membeli wanita tercantik yang saya inginkan. Saya kini tidak lagi jelek, karena efek kejelekan tersebut sebagai factor determinan telah dihapuskan oleh uang. Dalam masyarakat dimana manusia telah berubah menjadi benda, maka benda pulalah (uang) yang akan menggantikan kekuasaan manusia. Segala sesuatu yang anda tidak dapat lakukan, uang anda bisa melakukannya, maka ia juga tidak dapat dilakukan)

Ya, sepertinya uang bisa membeli apapun didunia ini. Silahkan anda berpikir sejenak dan menilai. Salam.


Andi Aulia Anwar
(Ndick)
Lembaga Studi Urban (LSU)



Daftar bacaan:
Bowie, M. 2004. Jacques Lacan. Dalam John Sturrock (ed.), Strukturalisme Post-Stukturalisme: dari Levi-Strauss ke Derrida (M. Nahar Penerj.). Surabaya: Jawa Pos Press.
Sarup, M. (2004). Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis (Cetakan Kedua) (M. A. Hidayat Penerj.). Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Lubis, Akhyar Yusuf (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Hamsah, Ustadi, ”Jean Baudrillard”, Jurnal Studi Agama-agama Religi, No. 1, vol. III (2004).
http://drgsubur.files.wordpress.com/2008/04/jean-baudrillard-postmodernisme.pdf.
www.egs.edu/Jean Baudrillard/Biography.html.

No comments: